Tuesday, June 19, 2012
Telah terbit buku terbaru kami.
Setelah berhasil menerbitkan karya tulis yang ke- 4 dengan
judul "Mengembangkan Pendidikan Islam Informal", maka saat ini Dr.
Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M menerbitkan 2 buah karya tulisnya kembali dengan judul :
a. Pengembangan Manajemen Pondok Pesantren di Era Globalisasi
b. Pedoman Penulisan Karya Tulis Ilmiah, Makalah, Proposal, Tesis
Pada buku yang berjudul "Pengembangan Manajemen Pondok
Pesantren di Era Globalisasi" Penulis menyuguhkan karya tulisnya agak
provokatif, mengajak para pengelola Ponpes di Indonesia untuk menyiapkan
institusinya menjadi go Internasional, secara garis besar isi buku ini sebagai
berikut.
Pesantren merupakan bentuk lembaga pendidikan Islam tertua
di Indonesia… Hanya saja, usia pesantren yang begitu tua tidak memiliki korelasi
yang signifikan dengan kekuatan atau kemajuan manajemennya. Kondisi manajemen
pesantren tradisional hingga saat ini sangat memprihatinkan, suatu keadaan yang
membutuhkan solusi dengan segera untuk menghindari ketidak pastian pengelolaan
yang berlarut-larut. (Mujamil Qomar, 2007). Walaupun demikian, anehnya
institusi pendidikan ini tetap diminati masyarakat dan tetap eksis dari tahun
ke tahun. Namun tidak sedikit di antara ponpes yang ada, kemudian menjadi tidak
berpenghuni. Hingga belakangan muncul ponpes tanpa santri.
Hal ini sangat beralasan karena kecenderungan masyarakat
saat ini dalam mengkaji, memahami dan mengamalkan ajaran keagamaan dari hasil
penelitian penulis cenderung mengalami kesadaran. Mereka menjadi santri dalam
ruang global, dalam dunia maya, yang kehadiarannya tanpa terikat sekat dinding
dan pagar yang tinggi mengelilingi dan membatasi aktivitas kesehariannya.
Menyikapi fenomena dalam era globalisasi ini, KH. Sahal
Mahfudz (1994) mengatakan bahwa, “Kalau pesantren ingin berhasil dalam melakukan
pengembangan masyarakat, maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga
yang terampil mengelola (memanajemen) sumber daya yang ada di lingkungannya, di
samping syarat lainnya. Pesantren harus tetap menjaga potensinya sebagai
lembaga pendidikan”. (Sulthon Masyhud, dkk, 2003)
Untuk itu perubahan dengan segera dalam dunia ponpes
nampaknya harus dilakukan. Menurut Jones (1998) bahwa perubahan ini tentu bisa
dilakukan dengan cara evolusioner dan atau revolusioner. Selanjutnya agar
ponpes dalam era milenium ketiga ini menjadi altrnatif utama tempat masyarakat
dunia belajar maka pengelola/pengasuh ponpes harus melakukan langkah yakni,
mencangkan visi, misi, nilai-nilai, tujuannya, studi kelayakan,
perencanaan strategis sebagai bagian
pengembangan manajemen ponpes yang ada.
Menurut Edwar Sallis (2010), untuk melakukan perencanaan
strategis, maka bisa menggunakan alat analisis SWOT. Alat ini sebenarnya umum
digunakan dan efektif dalam menempatkan potensi ponpes agar tidak hanya tetap
eksis tetapi juga siap bersaing dalam dunia globalisasi saat ini. Sudah saatnya
ponpes di Indonesia mencanangkan visi besarnya: ”Menjadi Sentral Pendidikan
Masyarakat Internasional”. Mengapa harus ragu? “Pesantren“ umat Katolik di
Amerika saja ternyata sekarang menjadi Harvard University yang dijadikan pusat
kajian masyarakat dunia.
Pada buku yang berjudul “Pedoman Penulisan Karya Tulis
Ilmiah, Makalah, Proposal, Tesis”,
penulis menyuguhkan bagaimana cara menulis karya ilmiah berupa makalah,
proposal, dan tesis sesuai dengan standar yang berlaku di lingkungan STAI,
IAIN, UIN atau perguruan tinggi yang lain, yang memiliki kesamaan pedoman
penulisan sesuai yang ditawarkan. Penulis buku ini menuntun para mahasiswa dan
penulis karya ilmiah agar memiliki kualitas penulisan yang memiliki nilai
filosofi yang tinggi
Harga @ Rp. 20.000,-
Anda berminat silahkan datang ke Ponpes Mahasiswa Jagad ‘Alimussirry
di Jl. Jetis Agraria 1/20 Wonokromo Surabaya Telp. 031 8286562
SEGERA MILIKI BUKU INI
STOK TERBATAS……..!!!
Wednesday, May 30, 2012
Persyaratan Menjadi Anggota Perpustakaan Jagad 'Alimussirry
1. Biaya
pendaftaran untuk menjadi anggota adalah Rp. 10.000,-
2.
Buku
yang dipinjam maksimal 4 buah
3.
Yang
mempunyai hak pinjam di perpustakaan hanyalah anggota perpustakaan
4.
Waktu
peminjaman maks. 1 minggu dari tanggal peminjaman
5.
Jika
si peminjam tidak mengembalikan buku lebih dari 1 minggu maka akan dikenakan
denda Rp. 200,- per-buku dikalikan jumlah hari keterlambatan
6.
Jika
bacanya belum selesai maka bisa diperpanjang 2 minggu dengan syarat melaporkan
buku yang dipinjam
7.
Jika
ada kerusakan/cacat pada buku yang dipinjam maka bila kondisinya parah seperti
terbakar / robek menjadi 2 maka si peminjam harus mengganti.
8.
Anggota
perpustakaan wajib memiliki kartu anggota perpustakaan
9.
Setiap
mau meminjam kartu anggota wajib dibawa
10.
Yang
bisa menjadi anggota hanyalah santri Ponpes Jagad ‘Alimussirry.
11.
Orang
lain/bukan anggota bisa pinjam dengan
syarat buku tersebut difotocopy lalu dikembalikan lagi/tidak dibawa pulang.
Serta memberi infaq sukarela untuk pengembangan perpustakaan.
12.
Untuk
anggota perpustakaan per-semester (tiap 6 bulan sekali) dikenakan infaq Rp.
10.000,- untuk pengembangan perpustakaan.
Bekerja Sebuah Ibadah (Oleh Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M)
Allah SWT menciptakan dan
menghadirkan manusia di muka bumi ini sejatinya bukan tanpa tujuan. Ada dua
tujuan setidaknya maksud Allah menghadirkan manusia di dunia ini. Tujuan yang
yang pertama dan sangat esensial sekali seperti yang tertera dalam al-Qur’an
surat al-Dzariyat: 56 yakni agar manusia ini beribadah, mengabdi kepada Allah
dengan segala bentuknya. Namun demikian seorang mufassir kenamaan dan termasuk
salah satu sahabat Nabi SAW, Ibnu Abbas r.a menafsirkan ayat di atas ‘ibadah’
yakni agar manusia hadir di muka bumi ini untuk bermakrifat (mengetahui) Allah.
Untuk mencapai tingkat makrifatullah ini tentu manusia harus
melakukan riadho/mujahadah (beribadah). Dalam kalangan kaum sufi, agar mereka
mampu mencapai tingkatan makrifat Allah maka harus melakukan tarikat yakni
jalan menuju perjumpaan dengan Allah. Sedang menurut Syaikh Abdul Qadir
Jailaini tokoh sufi ternama untuk mencapai perjumpaan dengan Allah ini seorang
muslim bisa melakukannya dengan cara shalat. Dengan melakukan cara-cara sufi
ini diharapkan seorang muslim setelah melakukan mujahadah, riadho, shalat,
hatinya senantiasa tetap berkomunikasi dengan-Nya baik waktu di masjid (tempat
ibadah), di rumah, di jalan, di kantor, pasar dan tempat lainnya sambil tetap
memberdayakan potensi akal fikirannya untuk memikirkan kekuasaan Allah yang ada
di muka bumi ini. Hal ini sangat penting karena tujuan Allah yang kedua
menghadirkan manusia di muka bumi ini adalah untuk menjadi khalifah (pengelola)
dunia ini.
Tujuan Allah menghadirkan manusia di muka bumi sebagai
khalifah seperti dalam penjelasan di atas dapat kita ketahui melalui
firman-Nya. Hal ini seperti yang termaktub dalam al-Qur’an al-Baqarah: 30. Artinya:
“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada
para malaikat: ‘Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seseorang khalifah di muka
bumi...” .
Khalifah yang dimaksud dalam ayat ini menurut Ibnu Katsir
dalam kitab tafsirnya yakni kaum (manusia) yang silih berganti, abad demi abad,
generasi demi generasi menghuni bumi untuk menjadi penguasa. Mereka adalah
kelompok para Nabi, Rasul, Siddiqin, Syuhada’ dan orang-orang shalih yang
benar-benar taat mengikuti ajaran Allah dan jejak para Nabi. Menurut Ibnu
Jabir, khalifah dimaksud dalam ayat di atas adalah Adam dan orang-orang yang
mengikuti jejaknya dalam ketaatan kepada Allah Swt. Mereka menjadi pengganti
Allah dalam menjalankan hukum secara adil.
Kalau kita cermati dari berbagai pandangan mufassir di atas
baik dari kalangan para sahabat Nabi dan mufassir setelahnya maka tujuan Allah
menghadirkan manusia di muka bumi ini agar di antara mereka menjadi makhluk
yang bisa menciptakan dan mengelola bumi ini agar tercipta kehidupan yang aman,
damai, tenteram, adil, sejahtera. Untuk itu manusia harus melakukan kerja
sebaik-baiknya dan tidak melanggar aturan-aturan Allah. Mereka ini menurut
al-Qurthubi harus menjadi imam (pemimpin) yang adil.
Sedang Nabi Saw sendiri mengingatkan kepada kita bahwa setiap
diri manusia adalah pemimpin dan setiap manusia nanti akan ditanya tentang
kepemimpinannya. Untuk itu manusia harus menyadari akan keberadaannya di muka
bumi ini, untuk apa mereka hidup dan apa yang telah dilakukannya selama
hidupnya ini. Bagi yang berkeluarga maka akan ditanya tentang kepemimpinannya
dalam rumah tangganya. Bagi yang bekerja akan ditanya tentang pekerjaan yang
telah dilakukannya. Apakah semua telah memenuhi harapan Allah. Untuk itu selama
manusia bekerja dalam rangka menjalankan perintah Allah maka ia memiliki nilai
ibadah di hadapan Allah.
Dalam hal ini Allah mengingatkan kepada manusia agar
senantiasa semangat bekerja untuk kehidupan dunia. Semua ini seperti yang
difirmankan Allah dalam al-Qur’an surat al-Qashash: 77. Artinya: “Dan carilah pada apa yang telah
dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat dan janganlah kamu
melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada
orang lain) sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu janganlah kamu
berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang
yang berbuat kerusakan”.
Menyikapi ayat di atas, menurut Ibnu Katsir bahwa seseorang
yang bekerja hingga ia menjadi kaya raya, hendaknya kekayaan yang diberikan
Allah kepadanya digunakan untuk beribadah kepada-Nya dan berbuat baik kepada
sesama manusia dengan jalan menafkahkan sebagaian dari harta kekayaannya untuk
menolong mereka yang membutuhkan pertolongan. Selain itu hartanya hendaknya
juga digunakan pula untuk memenuhi kebutuhan dirinya sendiri untuk makan,
minum, pakaian, perkawinan (keluarga), perumahan asal tidak melampau batas.
Selanjutnya harta kekayaan tersebut hendaknya tidak digunakan untuk berbuat
kerusakan dan berlaku sewenang-wenang di atas bumi ini. Hal ini karena Allah
tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.
Sebagai umat Islam yang baik, maka seyogyanya ia harus
benar-benar menjalankan perintah Allah Swt untuk beribadah baik secara khusus
atau pun secara umum. Bertitik tolak dari semua ini maka diharapkan umat Islam
akan menjadi sosok yang shalih secara individual dan social. Hal ini karena
setelah ia melakukan kerja duniawi semua hasil daripadanya hendaknya digunakan
untuk pengabdian kepada Allah. Ia menjadi bertanggungjawab terhadap pemenuhan
kewajibannya mecukupi dan mensejahterakan keluarga dan rumah tangganya, dengan
hartanya ia memenuhi perintah Allah menyantuni para dhuafa, anak yatim piatu,
fakir miskin, dan mentasharufkan di jalan Allah guna menghidupkan syiar agama,
membangun dan menghidupkan madrasah, masjid, pesantren, serta fasilitas umat
yang lain. Ketika menjadi pejabat maka ia berusaha mensejahterakan bawahan dan
rakyatnya. Semua itu dilakukan dalam rangka menjalankan tugasnya sebagai
khalifah (pemimpin) agar terjadi kehidupan yang damai, sejahtera, aman, tata tentren karta raharja sehingga
terwujud negeri seperti yang diharapkan Allah yakni baldatun thayyibatun wa robbun ghofur.
Kita perlu mengingat kembali bahwa bekerja merupakan bentuk
ibadah. Bersemangatlah untuk melakukannya seakan-akan kita hidup selamanya.
Semua akan memiliki nilai akhirat jika dalam pelaksanaanya kita maksudkan dalam
rangka melakukan perintah Allah. Sebaliknya betapa banyak orang yang secara
lahiriyah nampak melakukan ibadah semisal shalat, baca al-Qur’an, puasa, dan
lain, namun karena di antara mereka hanya ingin dipuji dan mengharap
penghargaan dari makhluk maka ia sedikitpun tidak mendapatkan nilai akhirat
sedang yang ia dapatkan hanya nilai duniawi, penghargaan dan pujian dari
manusia lain.
Mengakhiri dari tulisan ini maka perlu kita sadari bahwa
sejatinya Islam merupakan agama yang mengajarkan kesempurnaan. Hal ini karena
Islam mengajarkan dan mengajak manusia agar menjadi sosok yang sempurna/ideal.
Manusia yang ideal adalah mereka yang menjalani hidup ini dengan cara
menyeimbangkan untuk urusan duniawinya dan akhirat secara bersama-sama. Semua
dilakukannya semata-mata hanya mengharap keridhaan Allah Swt. Semoga Allah
menjadikan kita kelompok manusia yang sukses, bahagia dan selamat di dunia dan
akhirat, yang senatiasa mendapat bimbingan dan keberkahan hidup daripada-Nya.
Friday, May 11, 2012
Jasa Penerbitan Buku dan Karya Tulis Ilmiah
Penerbit Ponpes Jagad 'Alimussirry menerima Jasa Penerbitan Buku dan Karya Ilmiah. Kami menawarkan jasa penerbitan ini mulai dari me-layout, membuat cover buku, edit, serta tak kalah penting adalah menguruskan Nomor ISBN yang dikeluarkan Perpustakaan Nasional di Jakarta. Untuk informasi lebih lanjut silahkan hubungi kami di (031) 8286562 atau datang langsung ke Ponpes Mahasiswa Jagad 'Alimussirry di Jl. Jetis Agraria 1/20 Wonokromo Surabaya. atau bisa hubungi kami lewat email jagad_alimussirry99@yahoo.co.id, Facebook, Yahoo Mesenger, ataupun juga Twitter.
Direktur Penerbitan
ttd
Pengembang Kaum Intelektual Berkarya
Aris Handriyan, M.Si
Saturday, March 3, 2012
ANDIL KYAI & UMARO DALAM KETERPURUKAN OUT PUT INSTITUSI ISLAM (Oleh : Dr. Djoko Hartono, M.Ag, M.M)
Berbicara masalah pendidikan barangkali usianya sama tuanya dengan
adanya manusia itu sendiri. Bahkan proses pendidikan dan pembelajaran itu
sendiri diindikasikan dalam kitab Al-Qur’an, telah berlangsung sebelum Allah
menurunkan Adam sebagai manusia pertama di muka bumi. Dengan demikian jelaslah
bagi kita bahwa Islam didalam memperhatikan tentang pendidikan benar-banar
memberikan porsi yang sangat krusial dan serius.
Indikasi bahwa
proses pendidikan sebenarnya sudah berlangsung sebelum manusia di hadirkan
dimuka bumi ini dapat kita ketahui dalam Q.S. Al-A’raf 172, dimana kalau kita
cermati ayat ini memberikan deskripsi proses pendidikan dan pembelajaran
tentang ketahuhidan yang dilakukan Allah sendiri kepada seluruh manusia ketika
masih di alam ruh dengan mempersaksikan bahwa Allah sebagai Tuhannya yang saat
itu dijawab dan diakui seluruh manusia yang dengan harapan agar nantinya
manusia ketika sudah dihadirkan di muka bumi tidak menuntut karena belum pernah
diajarkan dan diinformasikan kedudukan sebagai hamba yang harus mengabdi kepada
Allah sendiri. Demikian pula dalam Q.S. Al-Baqorah 31 kita dapat memperhatikan
bagaimana proses pendidikan dan pembelajaran diberikan kepada Adam ketika
berada di alam surga akan ilmu-ilmu yang bersifat aqliyah yang di dunia
nantinya disebut sebagai ayat kauniyah atau yang bersifat ilmu profan (nama
benda-benda).
Dengan demikian menjadi jelas bagi kita sejak
awalnya perhatian Islam terhadap pendidikan telah mendapat perhatian serius,
tidak hanya menyangkut ilmu yang bersifat ketauhidan tetapi juga yang bersifat
kebendaan keduniawian dan telah diajarkan semenjak manusia belum hadir dimuka
bumi. Dan hal itu tentu terus di bawah para nabi dan rasul, sejak Adam sebagai
Nabi pertama hingga di tutup rasulullah SAW yang menjadi figur pilihan Allah
untuk menjadi Agent of social change dengan memberikan proses pendidikan dan
pembelajaran sebagai media untuk menata dan mewujudkan masyarakat yang memiliki
sosio kultural berperadaban dan berbudaya yang mapan di tengah-tengah alam
materi dan keduniawian ini.
Pada awal masa
perkembangan Islam yang dibawah Nabi Muhammad Saw pendidikan yang sistematis
formal nampaknya belum terselenggara, sebab pendidikan yang berlangsung saat
itu pada umumnya dapat dikatakan masih bersifat informal yang berkaitan dengan
upaya-upaya dakwah islamiyyah. Dan hal itu berlangsung di rumah sahabat nabi.
Baru setelah masyarakat islam terbentuk maka masjidlah yang kemudian menjadi
pusat kajian. Sedang proses pendidikan formal pada masa lebih belakangan saja
baru muncul dengan kebangkitan madrasah sebagai institusinya, seperti Madrasah
Miyan Dahiyah yang didirikan Abu Ishaq Ibrahim ibn Mahmud di Nashapur 2 abad
sebelum Nidhomiyyah, Madrasah Sa’idiyah pada masa Sultan Mahmud Al-Ghaznawi
yang berkembang 165 tahun sebelum Nidhomiyyah, serta Madrasah Nidhomiyyah itu
sendiri (1064) yang dikenal madrasah Nidhom Al-Mulk (Bulliet, 1972) hingga kita
kenal lembaga-lembaga pendidikan formal saat ini.
Dalam pandangan Makdisi dan Stanton institusi islam sejak
awalnya belum dan tidak pernah menjadi The
institutional of higher learning atau difungsikan semata-mata untuk
mengembangkan tradisi penyelidikan bebas berdasarkan nalar kecuali sebelum
kehancuran aliran theologi Mu’tazilah, sebagaimana terdapat di Eropa pada masa
modern. Namun sebaliknya institusi islam sejak awalnya hanya memposisikan diri
sebagai (the guardian of God’s given law)
pemelihara hukum yang diwahyukan Tuhan yang senantiasa
mengabdikan kepada ilmu-ilmu agama dengan penekanan pada kajian fiqihiyyah,
tafsir, dan hadits yang terbatas pada ijtihad teori yang itu dipandang banyak
mendatangkan pahala, jalan cepat masuk surga dan belum sampai pada implementasi
praktek nyata. Sedangkan sisi lain dari ilmu-ilmu yang bersifat keduniaan
(profan) seperti ilmu alam, eksakta yang merupakan akar pengembangan sains dan
teknologi ditempatkan dalam posisi yang marjinal dan dianggap makroh untuk
tidak menyatakan haram. Padahal jika kita cermat pentingnya mempelajari sains
ini mendapat justifikasi dalam Al-Qur’an (QS. Ar-Rahman : 33 ) Untuk itu
mempelajarinya bisa jadi memiliki nilai yang sebanding dengan mengkaji tafsir
al-qur’an itu sendiri, yang bersifat kontektual dan empiris.
Adapun kemajuan
sains yang mencapai puncaknya pada masa keemasan islam dulu hampir dipastikan
itu muncul bukan karena kurikulum madrasah-madrasah yang ada. Akan tetapi kemajuan
sains itu lebih merupakan hasil pengembangan dan penelitian individu-individu
ilmuwan muslim yang didorong semangat (scientific
inquiry) penyelidikan ilmiah, guna membuktikan kebenaran ajaran-ajaran
Al-Qur’an, terutama yang bersifat kauniyah. Demikian menurut penelitian Stanton dan Makdisi.
Meskipun Islam pada
dasarnya tak membedakan nilai ilmu-ilmu agama dengan ilmu-illmu non agama (umum
), tetapi dalam prakteknya masih banyak masyarakat yang mayoritas muslim di
negeri ini, pembuat kebijakan bahkan para ulama (kyai) yang masih berfikir
konservatif memandang dan membedakan keduanya bahkan mereka semua masih
memberikan supremasi ilmu-ilmu agama sebagai hal yang lebih afdhol ketimbang
ilmu-ilmu yang bersifat profan. Anehnya pandangan ini tetap dipertahankan
masyarakat, pembuat kebijakan dan sebagaian ulama negeri ini di tengah-tengah
keinginannya untuk mendongkrak keterpurukan dunia pendidikan kita yang ada. Hal
ini disebabkan sikap keagamaan dan kesalehan yang memandang ilmu-ilmu agama
sebagai Jalan Tol menuju Tuhan. Dan
ilmu-ilmu profan hanya menjadi penyebab jauhnya seseorang dari Tuhan. Sungguh
suatu cara pandang yang tidak menujukan kekaffahan dalam memahami ajaran islam
yang ada.
Cara pandang para
ulama (kyai) yang terimplementasi dengan memberi pencerahan pada umat serta
penjustifikasian umaro sebagai pembuat kebijakan berujung pada pendangkalan
nalar dan membuat masyarakat harus puas dengan aktivitas rutin dengan pengkajian
tafsir Qur’an dan Hadits yang bersifat teoritis tekstual, pengajian kitab-kitab
kuning dan istighotsah. Kesemuanya itu dilakukannya bertahun-tahun yang pada
akhirnya menjadi melembaga baik secara formal ataupun nonformal tanpa ada
implementasi dalam karya nyata dalam penelitian dan pengembangan serta penemuan
baru terhadap sains dan teknologi yang sesungguhnya semua itu harus menjadi
budaya umat islam sebagai amaliyah shaleh yang bisa dimanfaatkan untuk
kemaslahatan umum serta sebagai fasilitas untuk mempermudah manusia mendekatkan
diri dan menuju kepada Allah tentunya.
Akhibat dari rasa
puas dengan aktivitas rutin seperti di atas membuat ilmu-ilmu yang bersifat
profan terabaikan serta masyarakat jatuh dalam kepasifan dan menjadi tidak
bergairah bahkan tidak berdaya menghadapi era sains dan teknologi yang ada
selama ini. Terwujudnya out put institusi islam menjadi sumberdaya manusia seperti ini tentunya tidak lepas dari andil
para ulama (kyai, ustadz) sebagai pendidik serta figur yang fatwa dan
nasihatnya mendapat tempat di hati dan mempengaruhi prilaku cara bertindak
banyak umat islam, dan pembuat kebijakan (umara) sebagai penjustifikasi legal, yang
keduanya masih berfikir konservatif
terilhami paradigama lama pada institusi islam masa awal berdiri di
Timur Tengah yang hanya berfungsi sebagai the
guardian of God’s given law, dimana keberadaan ulama (kyai) dalam
masyarakat yang paternalistik memiliki kedudukan yang tidak bisa diabaikan,
apalagi mendapat justifikasi dari umara yang sedang berkuasa sebagai pembuat
kebijakan. Untuk itu diperlukan keberanian para ulama (kyai) untuk
merekonstruksi cara pandang sebagai pencerah umat serta umara sebagai pembuatan
kebijakan yang ada dalam rangka mengembalikan keterpurukan out put dari
institusi islam yang ada selama ini, sehingga nantinya terwujud masyarakat
islam yang memiliki sumberdaya manusia yang aktif, dinamis dalam memasuki era
sains dan teknologi seperti saat ini.
Thursday, March 1, 2012
Masyarakat dan Kemiskinan (Akar Persoalan dan Solusinya) Oleh Dr. Djoko Hartono, M.Ag, M.M
Masalah
kemiskinan dibanyak negara nampaknya menjadi issue penting dan aktual,
menjadi masalah sosial tak habis dikupas
untuk dicari jalan keluarnya. Kemiskinan merupakan masalah terbesar sepanjang
zaman dalam komunitas manusia, yang padanya justru diamanatkan untuk mengelola
bumi yang dihuninya. Dalam literatur Islam, ada banyak kata untuk menyebut
keberadaan kondisi umat yang tidak berdaya secara ekonomi ini. Kata-kata tersebut antara lain al-sail, al-mahrum, al-faqir dan al-miskin.
Secara etimologi-sintaksis, kata tersebut memiliki makna peminta-minta, orang
yang dihalangi kepemilikan harta, orang yang butuh dan orang yang diam tidak
punya apa-apa. Terkadang, pengertian dari salah satu kata tersebut
dimaksud sebagai pengertian kata yang lain. Hanya saja, meskipun secara
redaksional berbeda, tetapi kata-kata tersebut menunjukkan kondisi
ketidakberdayaan ekonomi.
Kemiskinan
sesungguhnya merupakan “penyakit ganas” yang akan berdampak negative tidak
hanya pada kehidupan individu tetapi juga pada kehidupan sosial, termasuk juga
pada dimensi aqidah, perilaku (moral), pemikiran, peradaban, kebahagian rumah
tangga bahkan kehidupan manusia secara umum. Mengapa masyarakat menjadi jatuh
miskin dalam hidupnya ? Apa yang salah di negeri yang alamnya subur dan kaya
ini ? atau Apakah hal ini sudah menjadi kodrat hidupnya ? Serta Bagaimana
solusi mengangkat derajat sosial ekonomi mereka ?
v Akar Persoalan
Ada
beberapa faktor yang menyebabkan masyarakat jatuh miskin, yakni internal dan
eksternal. Faktor internal yang mewujudkan kemiskinan berkepanjangan menimpa masyarakat,
yakni degenerasi moral, hilangnya dinamisme akibat dogmatisme dan kekakuan
memahami ajaran agama, rendahnya etos kerja, tidak memanfaatkan potensi secara
optimal, rendahnya pendidikan, kemerosotan dalam kegiatan intelektual dan
ilmiah, perpecahan diantara umat / masyarakat,
pemborosan atau pola hidup konsumtif, mudah putus asa. Adapun faktor
eksternalnya yakni perekonomian yang berbasis kapitalisme dan sosialis,
peperangan yang berkelanjutan, kemerosotan pada hasil-hasil pertanian,
kerajinan dan perdagangan; pengurasan dan hilangnya barang tambang serta logam
mulia; bencana alam.
Kemiskinan
yang telah berjalan dalam rentang ruang dan waktu yang panjang memastikan,
bahwa gejala tersebut tidak cukup diterangkan sebagai realitas ekonomi.
Artinya, ia tidak sekedar gejala keterbatasan lapangan kerja, pendapatan,
pendidikan dan kesehatan masyarakat. Ia sudah menjadi realitas system/struktur
dan tata nilai kemasyarakatan. Ia merupakan suatu realitas budaya yang antara
lain berbentuk sikap menyerah kepada keadaan.
Namun
demikian bukan berarti sejak semula mereka tidak mempunyai faktor-faktor
kultural yang dinamis. Mereka terbelakang dan miskin karena
kesempatan-kesempatan tidak diberikan kepada mereka. Atau mereka miskin oleh
karena kesempatan-kesempatan telah dihancurkan dari mereka. Sehingga akhirnya
dalam waktu yang lama menjadi melembaga dalam budaya kehidupan masyarakat (culture of poverty) bahwa mereka dari
dulu hingga sekarang bersikap tergantung, cenderung pasra terhadap nasib.
v
Solusi
Pengentasan Kemiskinan
Melihat
akar persoalan di atas nampaknya untuk mengentas kemiskinan di masyarakat kita
agak cukup sulit. Hal ini karena kemiskinan di negeri ini sudah menjadi budaya
permanen yang mengakar kuat hingga membentuk sistem yang terstruktur dalam
masyarakat luas. Namun demikian bukan berarti harus dibiarkan terus menerus.
Dalam kaitan usaha ini, perlu ada kesungguh baik dari pihak penguasa,
masyarakat serta individu yang terjatuh dalam kemiskinan.
Usaha
yang sangat mendasar dan krusial yang segera direalisasikan adalah dengan
memperhatikan kualitas pendidikan di negeri ini dalam segala aspeknya.
Nampaknya melalui pendidikan yang baik dan bermutu sudah dapat diharapkan akan
mampu mendongkrak kemiskinan yang ada. Pendidikan itu meliputi pendidikan multi
dimensi yang disesuaikan dengan potensi dan kebutuhan masyarakat miskin itu
sendiri. Baik itu menyangkut pengembangan skills,
serta pendidikan multikultural. Pendidikan itu juga harus mengedepankan etika
dan hati nurani yang dalam.
Selain
dari pada itu perlu terus pula di tumbuh kembangkan iklim dan model ekonomi
yang beretika dan berhati nurani dalam masyarakat negeri ini yang ada. Sehingga ketimpangan
dalam masyarakat bisa dieliminasi, bukan sebaliknya yang bermodal semakin
menjadi kaya dan yang miskin semakin tercekik dengan kemiskinannya.
Saya
kira dengan modal pendidikan yang berkualitas yang didukung kepedulian elemen
masyarakat yang bermodal serta kepercayaan dan kesempatan mengembangkan diri pada
si miskin maka kemiskinan akan terkatrol dari masyarakat kita. Bukan sebaliknya
mereka malah dieksploitasi, diintimidasi, digusur dan dilibas begitu saja tanpa
ada solusinya, di saat mereka lagi memulai upaya mengembangkan potensi dirinya.
Wednesday, February 29, 2012
Cara Membuat Blog
Karena banyak yg bertanya tentang apa itu blog, maka agar lebih praktis saya tuliskan saja di sini info dasar blog bagi pemula. Tulisan ini berdasarkan cara pandang saya melihat teknologi blog yg sekarang lagi tumbuh pesat diminati tidak hanya kalangan awam, tapi juga mulai merambah ke kalangan intelektual dan akademisi serta selebritis Indonesia. Di luar negeri, blog sudah berkembang sejak lama. Kita saja yg memang suka ketinggalan.
1. Apa itu blog?
Blog adalah situs pribadi. Berbeda dg website yg setiap memposting harus susah payah memakai kode ekstensi .html .php, .asp, dll, blog merupakan otomatisasi dari semua ekstensi tsb. Sehingga karena sudah diotomatisasi, maka kita-kita semua yg lugu teknologi menjadi ostosmastis dapat memposting apa yg kita inginkan persis seperti kita memposting email ke teman atau ke milis.
Dan karena kemudahan inilah, maka semua orang yg tahu internet dapat membuat blog atau situs pribadi; sama halnya dg memiliki email. Tak heran apabila pemilik blog bervariasi: mulai dari pembantu rumah tangga, ibu rumah tangga, tukang jualan sayur di pasar klewer, cewek-cewek "ramah" di pasar senggol, sampai profesor dan menteri-menteri.
2. Bagaimana cara membuat blog?
Seperti halnya email, buat account dulu di free blog provider (pemberi hosting/domain blog gratis). Yg paling populer adalah http://www.blogger.com. Bagi Anda yg sudah agak melek-huruf teknologi bisa juga buat account di http://www.wordpress.com dan http://blogsome.com. Selain yg dua ini masih banyak penyedia blog gratis yg bisa Anda ketahui kemudian. Ikuti pentunjuk step-by-step ketika mendaftar.
3. Setelah selesai register/sign-up di http://blogger.com, anda dapat mulai memposting/mempublish apapun yg Anda inginkan di blog: mulai dari curhat, puisi, cerpen, tulisan serius sampai yg canda.
CARA MEMBUAT BLOG DI BLOGGER
1. Apa itu blog?
Blog adalah situs pribadi. Berbeda dg website yg setiap memposting harus susah payah memakai kode ekstensi .html .php, .asp, dll, blog merupakan otomatisasi dari semua ekstensi tsb. Sehingga karena sudah diotomatisasi, maka kita-kita semua yg lugu teknologi menjadi ostosmastis dapat memposting apa yg kita inginkan persis seperti kita memposting email ke teman atau ke milis.
Dan karena kemudahan inilah, maka semua orang yg tahu internet dapat membuat blog atau situs pribadi; sama halnya dg memiliki email. Tak heran apabila pemilik blog bervariasi: mulai dari pembantu rumah tangga, ibu rumah tangga, tukang jualan sayur di pasar klewer, cewek-cewek "ramah" di pasar senggol, sampai profesor dan menteri-menteri.
2. Bagaimana cara membuat blog?
Seperti halnya email, buat account dulu di free blog provider (pemberi hosting/domain blog gratis). Yg paling populer adalah http://www.blogger.com. Bagi Anda yg sudah agak melek-huruf teknologi bisa juga buat account di http://www.wordpress.com dan http://blogsome.com. Selain yg dua ini masih banyak penyedia blog gratis yg bisa Anda ketahui kemudian. Ikuti pentunjuk step-by-step ketika mendaftar.
3. Setelah selesai register/sign-up di http://blogger.com, anda dapat mulai memposting/mempublish apapun yg Anda inginkan di blog: mulai dari curhat, puisi, cerpen, tulisan serius sampai yg canda.
CARA MEMBUAT BLOG DI BLOGGER
Membuat blog di blogger.com sangatlah mudah.
Sekarang saya akan tunjukan cara untuk membuat sebuah account baru di blogger.com, yang 100% gratis. Saya merekomendasikan anda untuk membuat blog di blogger.com karena program ini sangat didukung penuh oleh google, sehingga apabila kita membuat blog disini maka google akan cepat mengindeks blog kita. Alhasil blog kita akan muncul dihalaman pencari google.
Sekarang saya akan tunjukan cara untuk membuat sebuah account baru di blogger.com, yang 100% gratis. Saya merekomendasikan anda untuk membuat blog di blogger.com karena program ini sangat didukung penuh oleh google, sehingga apabila kita membuat blog disini maka google akan cepat mengindeks blog kita. Alhasil blog kita akan muncul dihalaman pencari google.
- LANGKAH KE-1 (GETTING STARTED)
Silahkan anda kunjungi website www2.blogger.com
- LANGKAH KE-2 (CREATE AN ACCOUNT)
Setelah page terbuka, silahkan anda klik CREATE AN ACCOUNT setelah anda klik, maka akan muncul form untuk mengisikan nama dan password. Silahkan isi dan anda harus selalu ingat username dan password yang anda isikan.
Jangan lupa untuk menceklist Term of service agreement.
Kemudian klik tombol panah "Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-3
Kemudian klik tombol panah "Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-3
- LANGKAH KE-3 (NAME YOUR BLOG)
Bagian ini sangat penting, karena nama dari blog anda nantinya akan menjadi sebuah keyword.
TIPS: agar blog anda mudah terindex oleh search engine(mesin pencari), maka alangkah lebih bagusnya jika anda membuat sebuah kesamaan antara addres dan name dari blog anda!
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-4
TIPS: agar blog anda mudah terindex oleh search engine(mesin pencari), maka alangkah lebih bagusnya jika anda membuat sebuah kesamaan antara addres dan name dari blog anda!
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-4
- LANGKAH KE-4 (CHOOSE YOUR BLOG TEMLATE)
Sekarang anda haya tinggal selangkah lagi untuk mempunyai webblog buatan sendiri!!!
Disini anda ditujukan untuk memilih warna dan bentuk dari web anda. Silahkan pilih sesuai dengan topic dan selera anda.
OK jika anda sudah selesai memilih template, sekarang kita akan lanjut ke langkah berikutnya.
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-5
Disini anda ditujukan untuk memilih warna dan bentuk dari web anda. Silahkan pilih sesuai dengan topic dan selera anda.
OK jika anda sudah selesai memilih template, sekarang kita akan lanjut ke langkah berikutnya.
Sekarang klik tombol panah ORANGE"Continue" untuk melanjutkan ke langkah ke-5
- LANGKAH KE-5 (GENERATE YOUR BLOG)
Sekarang blogger akan menciptakan blog anda. Setelah blog selesai dibuat, maka di browser anda akan ada tulisan "Your Blog Has Beeb Created" Klik start Posting untuk untuk membuat artikel/tulisan pertamamu.
Sekarang Isikan Judul artikel kamu pada kolom tile, dan tulis isi dari artikelmu di bawahnya!
Sekarang Isikan Judul artikel kamu pada kolom tile, dan tulis isi dari artikelmu di bawahnya!
SELAMAT!! sekarang anda sudah mempunyai blog sendiri dan sudah bisa dilihat dari penjuru dunia manapun :)
KEPEMIMPINAN NAFSU (Dr. Djoko Hartono, M.Ag, M.M)
Berbicara masalah kepemimpinan
nampaknya usianya hampir sama dan sudah terjadi sejak adanya manusia hadir di
muka bumi, bahkan sebelum diciptakannya makhluk yang satu ini kepemimpinan
sudah disebut-sebut oleh Sang Pencipta terlebih dahulu, seperti dialog antara
Allah dengan malaikat tentang akan dihadirkan figur manusia yang akan menjadi
khalifah (pemimpin) di muka bumi.
Ungkapan ini tentu telah
kita jumpai pada semua kitab suci bagi penganut agama samawi (langit). Bahkan
disebut-sebut dalam penganut Islam jagad raya ini diciptakan karena Yang Maha
Kuasa akan menghadirkan pemimpin yang agung yang dikagumi di dunia Timur dan
Barat bahkan seluruh jagad raya, yang beliau ternyata Nabi Muhammad SAW. Bahkan
dalam kitab Syajaratul Kaun karya Ibnu Arabi dan Sirrul Asrar karya Abdul Qodir
Jailany, Nabi SAW sendiri pernah mengatakan bahwa dirinya sudah menjadi Nabi
(pemimpin) ketika masih dalam alam arwah dan Adam masih dalam keadaan diantara
air dan tanah. Hingga kemudian
diciptakannya Adam dan Hawa sebagai manusia pertama yang hadir di muka bumi.
Inilah yang mengawali proses kepeimimpinan yang dari dirinya lahir anak manusia
yang banyak menjadi pemimpin di dunia ini dari golongan para Nabi dan Rasul
Allah seperti Ibrahim, Musa, Sulaiman, Daud, Isa, yang kepemimpinan Nabi dan
Rasul ini di akhiri Muhammad bin Abdullah SAW. Setelah itu bergulir diganti
dengan para sahabat (khulafaurrosyidin) seperti Abu Bakar, Umar bin Khattab,
Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib dan ulama shalihin seperti Umar bin Abdul
Aziz, Shalahuddin Al Ayyubi, Harun Arrasyid, dan yang lainnya hingga Ayatullah
Komaini yang semua itu merupakan para ulama shalih dan cendikiawan muslim yang
ternyata juga menjadi seorang pemimpin.
Kronologi
sejarah kepemimpinan dimuka bumi ini hendaknya perlu diingat kembali oleh
rakyat dan bangsa Indonesia
yang saat ini lagi aktual membicarakan proses suksesi kepemimpinan nasional,
yang agaknya terus dibodohi, didangkalkan dan diombang-ambingkan kelompok
tertentu yang anti dan takut hadirnya sosok figur ulama atau cendikiawan muslim
menjadi seorang pemimpin di negeri yang besar ini. Rasa ketakutan itu terus
dipropagandakan dengan cara membodohi umat dan rakyat yang mayoritas muslim
dengan issu yang sudah menasional bahwa kepemimpinan ulama atau cendikiawan
muslim tidak pantas di miliki bangsa Indonesia yang plural ini, dan akan
lebih pas jika ulama atau cendikiawan muslim itu mengurusi pesantren, memimpin
doa, bmemutar tasbih, bancaan, atau mengajar mahasiswa di perguruan tinggi.
Hingga sangat ironi sekali sampai muncul komentar dari umat Islam sendiri di
media cetak atau elektronika yang
mencerca figur ulama atau cendikiawan muslim yang siap maju mencalonkan
presiden, yang sesungguhnya rakyat telah terkena propaganda kelompok yang jika
ulama cendikiawan muslim naik menjadi presiden maka kelompok ini tak bisa
mengembangkan dan menyuburkan KKN di negeri yang kaya raya ini.
Untuk
itu, sangat penting bagi rakyat Indonesia
yang mayoritas muslim mengetahui lebih mendalam akan syarat-syarat figur yang
patut dan boleh dijadikan pemimpin seperti yang telah pernah diisyaratkan dan
diajarkan rasullulah SAW. Pengetahuan ini diperlukan agar rakyat tidak keliru
memilih, akhibat propaganda kelompok yang tidak suka kepeimpinan muslim yang
mengedepankan kejujuran dan keadilan. Jika kita menengok pendapat pakar politik
dan aliran aqidah Islam Prof. DR. Imam Muhammad Abu Zahro, M.A dalam karyanya Tarikh Al-Madzahib Al-Islamiyah, maka
kita temukan sedikitnya empat syarat yang harus dimiliki seseorang menjadi
pemimpin itu yakni pertama, merupakan keturunan suku Quraisy yang jika kita
jabarkan bisa jadi keturunan rasulullah atau paling tidak orang yang konsis
terhadap ajaran beliau (ulama cendikia muslim); kedua yakni mendapat (baiat) atau
dipilih oleh kelompok rakyat; ketiga yakni dipilih dari hasil musyawarah atau
pemilu dari calon-calon yang diajukan kelompok-kelompok yang membaiat; keempat
yaitu jujur dan adil sebab dengan kejujuran ini maka pemimpin akan berjalan
menuju dan menggerakkan roda pemerintahan kearah kebaikan hingga terwujud
keadilan dan kesejahteraan disemua golongan lapisan rakyat.
Sebuah
kasuistik yang kebetulan saat ini mencuat hingga mengurbankan capres dari ulama
cendikia adalah soal capres cacat yang justru tidak disukai oleh umat Islam
sendiri tanpa bermaksud mewajibkan memilihnya dan mengkampanyekannya agar ia
dipilih, merupakan satu bentuk perilaku yang sangat disesalkan. Propaganda
seperti yang telah ada saat ini betul-betul telah diterima umat Islam yang
seharusnya tetap membiarkan capres ulama cendikia ini mengikuti proses seleksi
rakyat, yang belum tentu juga terpilih menjadi presiden di negeri ini. Sungguh
sikap ini akan menciutkan harapan anak bangsa yang saat ini sedang belajar di
SLB dan tentu akan menambah kemalangan nasibnya. Mereka juga akan berfikir
bahwa sudah tidak adalah lagi ruang bergerak dan harapan untuk anak-anak yang
sedang belajar di SLB dikelak kemudian hari menjadi presiden dan pemimpin di
negaranya sendiri.
Persoalan
yang justru dihadapi umat dan rakyat yang mayoritas muslim ini harus
dikembalikan pada ajaran Islam yang telah dibawah Nabi SAW agar umat tidak
terus dibodohi, sehingga rakyat mendapat pencerahan dan agar tidak saling
menyalahkan yang pada akhirnya terjadi perpecahan.
Sebenarnya kasuistik
semacam ini pernah terjadi dimasa Nabi SAW masih hidup yang seharusnya menjadi
pelajaran bagi rakyat yang mengaku sebagai muslim. Mengapa tidak, Nabi menunjuk
dan menyuruh Ibnu Ummi Maktum yang matanya buta untuk menjadi pemimpin di
Madinah. Di saat lain ketika Nabi dalam keadaan sakit dan tak dapat berdiri
layaknya para sahabat yang sehat tetap juga menjadi pemimpin ketika sholat.
Panglima Besar Jenderal Suderman juga tetap menjadi pemimpin tentara walaupun
harus diusung dengan tandu oleh para bawahannya, yang justru oleh umat Islam
sendiri persolan kecacatan capres
dipermasalahkan dalam suksesi kepemimpinan saat ini.
Adapun kalau rakyat yang
mayoritas muslim ini mengacu pada masa Nabi SAW dan sejarah kepemimpinan dari
awalnya hal ini syah-syah saja. Demikian pula pemimpin dalam urusan agama atau
dalam keadaan cacat asal memiliki kemampuan jika dipih rakyat banyak untuk
menjadi pemimpin disuatu negara, maka seharusnya tidak boleh ditolak.
Untuk
itu jika rakyat yang mayoritas muslim tidak segera mereposisi keputusan yang
imgkar sunnah ini pada akhirnya bisa mewujudkan suksesi kepemimpinan dan
membuahkan pimimpin yang mengedepankan nafsu, yang tentu akan bersikap seperti
Fir’aun-Fir’aun dimasa Musa
AS. Kalau memang ini harus
terjadi maka benarlah forcasting para ulama khos yang mempridiksi bahwa
kepemimpinan yang keenam ini akan terwujud kepeimpinan nafsu.
Analisis ulama khos ini
tentu bukan tanpa dasar dan pijakan. Berlandaskan anasir tujuh unsur yang ada
dan dimiliki manusia ini, maka yang keenam adalah unsur nafsu, sedang yang
pertama body fisik (figur Soekarno-peletak pondasi), kedua roh atau jiwa
(Soeharto-penerus dan menghidupkan), ketiga akal (Habibi), keempat hati (Gus
Dur), kelima perasaan (Mega) dan ketujuh adalah nurani (satria panandita
sinisihan wahyu).
Adapun kepemimpinan nafsu
yang menjadi analisa ini kalaupun rakyat yang mayoritas mau kembali kepada
sunnah maka yang akan muncul tentu bukan pemimpin yang dikendalikan nafsu
negatif tapi sebaliknya tentu akan diwarnai dengan nafsu positif (mutmainnah),
yang dengannyalah akan terjadi gerakan yang mengarahkan pemerintahan dengan
bertujuan menciptakan kesejahteraan dan keadilan disemua lapisan dan golongan
masyarakat, sesuai dengan cita-cita reformasi.
Sunday, February 26, 2012
Telah Terbit Buku Terbaru Karya Dr. Djoko Hartono, S.Ag, M.Ag, M.M & Drs. Musthofa, M.Pd.I dengan Judul "Mengembangkan Pendidikan Islam Informal"
Berbekal banyak pengalaman di lapangan yang cukup
panjang sebagai pendidik, baik menjadi dosen di lingkungan pesantren, Umum,
PTAI, guru di tingkat SD/MI/SMP/Mts/SMA/MA/SMK maka penulis buku ini berani
mengkritik kondisi pendidikan di Indonesia.
Keberanian penulis buku ini
mengkritik sekolah formal di Indonesia tentu didasarkan pada riset yang telah
dijalaninya. Berangkat dari temuan-temuan di lapangan dari hasil riset terhadap
sekolah informal yang ada di Kota Malang dan Salatiga maka menjadi nyata bahwa
sudah saatnya di negeri ini para orang tua (masyarakat) harus berani untuk mengembangkan
pendidikan informal sebagai model alternative. Hal ini sangat beralasan karena
pendidikan formal di negeri ini banyak menyisahkan persoalan dan kelemahan.
Di antara persoalan itu yakni tidak ramah biaya. (Kak Seto, 2007). Dari
hasil survey paling tidak sedikitnya ada 17 pungutan dana yang dibebankan
kepada orang tua siswa. Banyaknya biaya yang dibebankan kepada orang tua siswa
ini menunjukkan pendidikan gratis masih menjadi impian. (Irawan dkk , 2004)
Adapun kelemahan dari pendidikan/sekolah formal itu di antaranya yakni di
samping mengandung manfaat lewat beban beratnya dalam mendidik generasi muda,
sekolah pun banyak menimbulkan kerawanan yang nyaris membawa umat manusia ke
dunia sia-sia, lemah, pasrah, serba bebas atau paganisme. Selanjutnya dampak
negatif sekolah formal di antaranya berkembangnya sikap eksklusif,
kecenderungan pada budaya Barat, munculnya kepribadian terbelah, salah kaprah
tentang ijazah dan ujian, lahirnya sumber daya manusia mekanik (an-Nahlawi,
1995), serta jauh dari sentuhan nilai-nilai Islami.
Buku ini sangat provokatif mengajak para pendidik,
calon guru, masyarakat dan orang tua untuk berani merubah padangannya agar mau
dan berani mendirikan, mengembangkan serta beralih pada pendidikan informal
sebagai model alternatif mendidik anak-anaknya dan generasi bangsa ini kedepan.
Mengapa harus ragu. Silahkan mencoba untuk mengembangkannya. Bagi yang berminat silahkan hubungi atau datang ke ponpes mahasiswa jagad 'alimussirry Jl. Jetis Agraria 1/20 Wonokromo Surabaya Telp. 031 8286562 dengan harga Rp. 40.000,- (Persediaan Terbatas)
Tuesday, February 21, 2012
Perlu Merekonstruksi Mindset Kaum Wanita (Kritik Atas Pemikiran Kristen F. Bauer) Oleh: Djoko Hartono
Ada kejanggalan dan kesan kontradiktif materi
artikel yang disampaikan Mrs. Kristen F. Bauer orang pertama di konsulat
jenderal AS di Surabaya dalam opini metropolis 24/11/2010. Untuk itu mengawali
kritik atas tulisan pemikiran Mrs. Kristen F. Bauer, maka perlu kiranya melakukan
analisis isi dari opini beliau sebagai konsep verbal komunikasi yang bersifat
kampanye melawan kekerasan terhadap perempuan. Dalam ilmu-ilmu sosial analisis
isi merupakan teknik pendekatan yang digunakan studi komunikasi untuk
mengetahui hakekat, makna dan tujuan yang melandasi proses dinamika masyarakat
yang melakukan pembicaraan, propaganda kampanye, baik dengan simbol-simbol, orasi
langsung atau melalui penulisan serta apa efek yang menyertainya. Pelopor
penerapan analisis isi adalah Lasswell, dkk dalam rangka memenuhi permintaan
pemerintah Amerika selama PD II.
Berangkat dari analisis isi ini, maka
muncul kritik jika dimungkinkan dalam rangka meluruskan kesadaran dan pemikiran
yang dianggap tidak tepat. Dalam pandangan Habermas, kritisisme ditengarahi
oleh kemampuan menjadikan unsur yang sebelumnya tidak disadari menjadi disadari
sehingga mengubah determinisme kesadaran yang salah. Kritik mengemban tugas
menjelaskan komunikasi yang mengalami distorsi. Untuk itu sebelumnya harus
disiapkan rancangan ide agar tidak terjadi komunikasi yang keliru dan
disimpangkan.
Pada alinea pertama Mrs. Kristen F. Bauer
mengatakan bahwa ”Kekerasan terhadap perempuan terjadi di Indonesia ...dan ini
penyebabnya kurangnya akses akan pendidikan, pelayanan kesehatan ...” dan
seterusnya. Apa yang disampaikan Mrs. Bauer
nampaknya tidak semuanya benar. Di Indonesia pendidikan, pelayanan kesehatan
sangat diperhatiakan bahkan sudah mulai digratiskan. Demikian pula pernikahan
di bawah umur tidak dibenarkan dan dilarang oleh pemerintah. Kalaulah ada yang
seperti dikatakan Mrs. Bauer tentu itu sifatnya kasuistik dan perlu
dikomunikasikan pada subjeknya, mengapa ia diperlakukan tidak sebagaimana
mestinya. Atau jangan-jangan wanita yang menjadi objek kekerasan karena ia
sendiri memposisikan dirinya sebagai makhluk Tuhan yang tidak berdaya.
Walaupun tidak secara eksplisit menuduh
kaum pria sebagai penyebab terjadinya kekerasan pada kaum wanita, namun secara
implisit Mrs. Bauer mengarahkan penyebabnya adalah kelompok laki-laki. Dengan
ungkapan dan kata-kata yang halus dan sopan dalam alinea kelima beliau berkata:
”Kita harus mendukung keterlibatan para pria dan remaja pria dalam mencegah
kekerasan dan ... para pria bisa juga menjadi korban...”. Kalimat senada beliau
ulangi lagi dalam alinea kesembilan untuk mencegah kekerasan terhadap perempuan
yakni dengan melakukan kerjasama dengan LSM dan melibatkan para pria.
Kalau dicermati dari penjelasan di atas,
nampak Mrs. Bauer tidak konsisten dengan tema besar yang diusungnya. Hakikat
pemikiran yang dikampanyekan justru memiliki efek melemahkan posisi kaum wanita
sendiri, seakan mereka tidak bisa lepas dari problem kekerasan yang menimpanya
tanpa bantuan kaum pria karena dianggap yang menjadi aktor pelaku adalah pria
dan yang bisa menghentikan juga kaum pria. Ini sama saja membangun (menkonstruk)
pemahaman yang keliru dan mengokohkan mindset kaun wanita yang ada
selama ini bahwa dirinya memang makhluk Tuhan yang lemah dan tak berdaya
sehingga dirinya menjadi lebih tak berdaya dihadapan para pria.
Dalam kampanye melawan kekerasan berbasis
gender, nampak jelas dalam alinea keenam, ketujuh, dan keempat belas, Mrs.
Bauer menggunakan tiga simbul yang diunggulkan yakni resolusi dewan keamanan
PBB nomor 1325, dan Amerika Serikat sebagai pemimpin pencapaian tujuan yang
ditentukan dalam resolusi bersejarah tersebut serta menteri luar negeri AS
Hillary Clinton.
Mrs. Bauer seharusnya tidak hanya
mengedepankan resolusi DK PBB seperti tersebut di atas bagaikan kitab suci, hal
ini karena jauh sebelum resolusi dewan keamanan PBB itu dicanangkan kitab suci
atau ajaran agama yang ada di muka bumi ini tentu sudah mencanangkan melawan
kekerasan terhadap perempuan dan menempatkan wanita memiliki peran yang sejajar
dengan kaum laki-laki. Dikalangan orang Hindu dalam cerita pewayangan peran
wanita ditonjolkan sebagai sosok Srikandi. Dalam agama samawi dikisahkan sosok
Bunda Maria (agama Kriten) / Ibu Mariam dalam agama Islam yang mendapat
penghargaan menjadi sebuah surat, di samping itu jenis kelamin wanita
diabadikan sebagai nama surat yakni Surat an-Nisa’ (wanita) dalam kitab suci
al-Qur’an.
Selanjutnya Mrs. Bauer, harusnya tidak
mesuperiorkan AS sebagai pemimpin mencapai tujuan yang ditentukan dalam
resolusi DK PBB itu dan menonjolkan menteri luar negeri AS Hillary Clinton yang
seorang wanita. Justru sebaliknya sejatinya secara empirik yang menjadi
pemimpin mewujudkan tujuan resolusi DK PBB tersebut sehingga harkat martabat perempuan
menjadi terangkat salah satunya adalah negara Indonesia. Negara Indonesia tidak
hanya mempunyai wanita-wanita yang mampu dan berani menunjukkan harkat
martabatnya hingga menjadi bupati,
walikota, atau menteri. Wanita yang menjadi Presiden (Kepala Negara) pun telah
ada di Indonesia dan ini belum terjadi di negara AS.
Beberapa langkah yang ditawarkan Mrs.
Bauer untuk mengangkat harkat martabat wanita agar tidak dijadikan objek
kekerasan nampaknya belum menyentuh core / subtansinya kecuali pada
alinea pertama hanya sekedar himbauan agar kaum wanita diberi akses pendidikan
yang baik dan pada alinea ketujuah beliau menawarkan agar kaum wanita melakukan
aktivitas yang mampu memberikan kontribusi di setiap aspek yang ada. Pada alinea
kesembilan dijelaskan dengan memberi pelatihan, bekerja sama dengan LSM dan
melibatkan para pria dan melakukan kerja sama dengan pemuka agama.
Agar harkat martabat kaum wanita menjadi
terangkat dan tidak dijadikan objek kekerasan dengan menawarkan langka-langka
di atas nampaknya akan menjadi tidak bermakna, mandul dan tidak memberi efek
positif selagi mindset kaum wanita tidak direkonstruksi. Kaum wanita
akan menjadi tampil mengangkat harkat martabatnya sendiri dan akan mampu
menghindari kekerasan yang menimpanya jikalau otaknya dicuci dari mindset
yang sudah tertanam sebelumnya bahwa dirinya lemah, tak berdaya, makhluk nomor
dua setelah laki-laki.
Sebaliknya yang perlu ditanamkan dalam mindset
kaum wanita saat ini adalah bahwa
kaum wanita sejatinya patner kaum laki-laki yang memiliki soft power
untuk menjadi khalifah / wakil Tuhan untuk pengelola jagad raya ini yang sejajar
dengan kaum laki-laki sehingga terjadi kelangsungan kehidupan yang nyaman,
aman, damai, tentram, makmur dan sejahtera penuh rahmat dan kasih sayang Tuhan
Yang Maha Kuasa.
Dengan merekonstruksi mindset
seperti ini maka langkah-langkah dan jalan yang ditawarkan Mrs. Bauer sebagai
kampanyenya untuk melawan kekerasan berbasis gender justru akan lebih cepat
terwujud. Dengan mengedepankan dan menanamkan pemahaman bahwa sejatinya kaum
wanita memiliki potensi yang luar biasa dan perlu dirinya memberdayakan potensi
itu, serta dirinya sejatinya memiliki peran sejajar untuk menjadi patner
kaum pria maka kaum wanita akan menjadi tergerak untuk terus mau
mengkualitaskan dirinya dengan mengikuti pelatihan dan pendidikan yang telah
ada.
Dengan memiliki pendidikan yang
berkualitas dan kepercayaan diri yang tinggi maka kaum wanita menjadi berani
melangkah untuk beraktivitas yang bermakna sehingga kaum wanita mampu
menyumbangkan kontribusi yang signifikan mewujudkan peradaban dunia dengan
tangan-tangan lembutnya. Kaum wanita tidak lagi merasa dirnya tidak berdaya dan
tidak mampu melawan kekerasan jika tanpa bantuan kaum laki-laki. Kampanye
melawan kekerasan berbasis gender seperti yang dilakukan Mrs. Bauer akan
berhasil dan terwujud, sejatinya berpulang pada kaum wanita sendiri dengan
langkah awal mau merekonstruksi mindset-nya. Selamat berjuang melawan
kekerasan.
*) Penulis:
Dr. Djoko Hartono, M.Ag, M.M
Alumni Mahasiswa Program Doktor IAIN Sunan
Ampel Sby.
Sekarang Sebagai Direktur Ponpes Mahasiswa
Jagad ’Alimussirry Surabaya
Pengembangan Manajemen Pondok Pesantren Dalam Menghadapi Globalisasi Oleh : Dr. Djoko Hartono, M.Ag, M.M
Stigma buruk
akan manajemen pondok pesantren (ponpes) di negeri ini nampaknya belum lenyap
betul. Jeleknya manajemen ponpes menyebabkan institusi pendidikan nonformal ini
dianggap sebagai lembaga pendidikan yang tetap melanggengkan status qua-nya
sebagai institusi pendidikan yang tradisional, konservatif, dan terbelakang. Anehnya
institusi pendidikan ini tetap diminati masyarakat dan tetap eksis dari tahun
ke tahun. Namun demikian tidak sedikit di antara ponpes yang ada, yang dulu
memiliki banyak santri kemudian menjadi tidak berpenghuni. Hingga belakangan
muncul ponpes tanpa santri.
Memasuki era
globalisasi saat ini, keberadaan ponpes sebagai lembaga pendidikan Islam tertua
di negeri ini tentu harus dikelola (manaj)
dengan lebih professional jika tidak ingin ditinggalkan masyarakat sebagai stakeholder. Arus global saat ini
menjadikan dunia informasi dan pengetahuan semakin mudah diakses masyarakat. Untuk
itu tidak menaruh kemungkinan ponpes yang dulu dijadikan pusat kajian keislaman
dan pengamalannya sekaligus, pada saatnya menjadi tidak diminati dan
ditinggalkan masyarakat sebagai pengguna jasa.
Hal ini sangat
beralasan karena kecenderungan masyarakat saat ini dalam mengkaji, memahami dan
mengamalkan ajaran keagamaan dari hasil penelitian penulis cenderung mengalami
kesadaran. Mereka menjadi santri dalam ruang global, dalam dunia maya, yang
kehadiarannya tanpa terikat dengan sekat dinding dan pagar yang tinggi
mengelilingi dan membatasi aktivitas kesehariannya.
Dari hasil
laporan penelitian yang penulis lakukan pada tahun 2009/2010 terhadap 30 kepala
sekolah favorit yang bernuansa Islam di Surabaya menunjukkan bahwa mereka yang
bukan alumni ponpes dengan jumalah 15 orang, pemahaman dan tingginya kesadaran
untuk melaksanakan sebagian dari ajaran Islam (spiritualitas) cenderung hampir
menyamai bahkan ada yang melebih baik dari mereka yang alumni ponpes yang
jumlahnya 15 pula. (Hartono, 2011: 84)
Tabel.
1
Pemahaman
dan Kesadaran Aktivitas Keagamaan
|
Bentuk Aktivitas
|
Alumni Ponpes
|
Bukan Alumni Ponpes
|
|
Salat Tahajud
|
12 Orang
|
10 Orang
|
|
Salat Duha
|
10 Orang
|
8 Orang
|
|
Salat Hajat
|
6 Orang
|
7 Orang
|
|
Puasa Senin Kamis
|
8 Orang
|
7 Orang
|
A.
Urgensi Pengembangan
Manajemen Bagi Pondok Pesantren (Ponpes)
Setiap pembicaraan yang di arahkan kepada manajemen maka yang terlintas
seringkali adalah perusahaan-perusahaan besar, raksasa, maju, berkelas dunia.
Sesungguhnya penerapan dan pengembangan manajemen yang baik dan professional
bukan hanya dibutuhkan dan milik perusahaan-perusahaan yang sukses tersebut.
Manajemen sejatinya merupakan bagian ilmu pengetahuan yang bersifat universal.
Selain sebagai ilmu, manajemen sejatinya juga sebagai seni, yang eksistensinya
juga dibutuhkan untuk semua tipe kegiatan yang diorganisasi dan dalam semua
tipe organisasi. Dalam prakteknya manajemen dibutuhkan dan penting untuk
dikembangkan di mana saja jika ada sekolompok orang bekerja bersama
(berorganisasi) untuk mencapai tujuan bersama (Handoko, 1999: 3).
Manajemen dikatakan sebagai ilmu selain karena bersifat universal, ia
mempergunakan kerangka ilmu pengetahuan yang sistematis, mencakup
kaidah-kaidah, prinsip-prinsip dan konsep-konsep serta dapat diterapkan dalam
semua organisasi manusia. (Handoko, 1999: 6)
Adapun menurut Mulyati dan Komariah (2009: 86) manajemen dikatakan
sebagai ilmu karena menekankan perhatian pada keterampilan dan kemampuan
manajerial menyangkut keterampilan/kemampuan teknikal, manusiawi, dan
konseptual. Sedang manajemen sebagai seni karena tercermin dari perbedaan gaya (style) seseorang dalam menggunakan atau memberdayakan orang lain
untuk mencapai tujuan. Selain sebagai ilmu dan seni, manajemen menurut Mulyati
dan Komariah ternyata juga sebaga proses. Hal ini karena aktivitas manajemen ternyata
membutuhkan langkah yang sistematis dan terpadu.
Untuk itu maka pengembangan manajemen tidak hanya berguna bagi organisasi
yang berorientasi profit (bisnis).
Pengembangan manajemen sejatinya juga berguna bagi organisasi seperti ponpes,
rumah sakit, sekolah dan yang lain. Apun urgensi pengembangan manajemen ini
sesungguhnya sebagai alat untuk mencapai tujuan organisasi yang diinginkan.
Dengan manajemen, daya guna dan hasil guna unsur-unsur manajemen akan dapat
ditingkatkan.(Hasibuan, 2001:1) Adapun unsur-unsur manajemen itu sendiri terdiri
man, money, methode, machines, materials
dan market serta spirituality. Keenam unsur ini sesungguhnya menjadi asset
organisasi apa saja, yang jika dikelola (manaj)
dengan baik tentu akan menghantarkan organisasi tersebut mencapai kesuksesan
sesuai dengan tujuan yang diharapkan. (Hartono,
2011: 8).
Selanjutnya menurut Handoko (1999: 6-7) urgensi pengembangan manajemen
bagi sebuah organisasi termasuk di sini untuk ponpes yakni :
- Untuk mempermudah organisasi (ponpes) mencapai tujuan yang diharapkan.
- Untuk menjaga keseimbangan di antara tujuan-tujuan, sasaran-sasaran dan kegiatan-kegiatan yang saling bertentangan dari pihak-pihak yang berkepentingan dalam organisasi seperti pemilik dan tenaga pendidik/kependidikan, peserta didik, orang tua, masyarakat, pemerintah dan yang lainnya.
- Untuk mencapai efisiensi dan efektifitas kerja organisasi dalam rangka meraih tujuan yang ada.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pengembangan manajemen sangat
urgen bagi ponpes dalam menghadapi globalisasi. Eksistensi manajemen sangat
dibutuhkan ponpes itu sendiri. Karena tanpa manajemen, semua usaha akan menjadi
sia-sia, tidak terarah dan pencapaian tujuan ponpes yang ada akan lebih sulit
dan tidak optimal.
B.
Pengembangan
Bidang-Bidang Manajemen Pondok Pesantren
Uraian di atas telah menyinggung tentang definisi manajemen yang di
antara para pakar berbeda-beda dalam mendefinisikannya. Hal ini bisa dilihat
dari pernyataan Stoner (1982:8) bahwa manajemen adalah proses perencanaan,
pengorganisasian, , pengarahan, dan pengawasan usaha-usaha para anggota
organisasi dan penggunaan sumber daya-sumber daya organisasi lainnya agar
mencapai tujuan yang telah ditetapkan. Gulick (1965: 14) mendefinisikan bahwa
manajemen adalah suatu bidang ilmu pengetahuan (science) yang berusaha secara sistematis untuk memahami mengapa dan
bagaimana manusia bekerja bersama untuk mencapai tujuan dan membuat system
kerjasama ini lebih bermanfaat bagi kemanusiaan.
Menurut Gulick manajemen telah memenuhi persyaratan untuk disebut bidang
ilmu pengetahuan, karena telah dipelajari untuk waktu yang lama dan telah
diorganisasi menjadi suatu rangkaian teori. Teori-teori ini masih terlalu umum
dan subjektif. Akan tetapi teori manajemen selalu diuji dalam praktek, sehingga
manajemen sebagai ilmu akan terus berkembang. Sedang menurut Follett bahwa
manajemen adalah seni dalam menyelesaikan pekerjaan melalui orang lain. Untuk
itu manajemen sesungguhnya bukan hanya merupakan ilmu atau seni, tetapi
kombinasi dari keduanya. Kombinasi ini tidak dalam proporsi yang tetap tetapi
dalam proporsi yang bermacam-macam dan terus mengalami pengembangan.
|
- Manajemen sumber daya manusia
- Manajemen keuangan
- Manajemen produksi
- Manajemen pemasaran
- Manajemen perkantoran
- Manajemen risiko
- Manajemen mutu
- Manajemen konflik
- Manajemen perubahan
- Manajemen strategi
Bidang-bidang manajemen tersebut tentu dalam implementasinya bisa
diterapkan dan dikembangkan dalam pondok pesantren (ponpes) sebagai lembaga
pendidikan nonformal yang ada. Para
pengasuh/pengelola ponpes akan lebih baik jika dalam menjalankan roda
organisasi mampu mengelola bidang-bidang tersebut.
Lebih-lebih ponpes yang ada di arus globalisasi, harus terus berbenah
diri dan siap melakukan perubahan jika tidak ingin ditinggalkan masyarakat
sebagai stakeholder, pengguna jasa
ponpes. Suka tidak suka semua akan merasakan dan hidup dalam era millennium ketiga ini. Dalam era ini
wajah dunia dari hari ke hari kian berubah. Perubahan itu benar-benra kasat
mata di sekitar kita.
Perubahan tersebut ditandai dengan adanya fenomena bangunan fisik, produk
teknologi, mobilitas penduduk, media komunikasi, system transportasi, arus
informasi, arus barang, jasa dan lainnya. Perubahan-perubahan ini tentu juga
akan berpengaruh terhadap wajah peradaban umat manusia. (Sudarwan Danim, 2010:
1). Untuk itu ponpes sebagai institusi pendidikan Islam nonformal tertua di
negeri ini nampaknya perlu juga mereposisi manajemen yang ada sebelumnya.
Selanjutnya para pengelola/pengasuh ponpes harus berani dan mau mengembangkan
manajemen yang ada guna mengantisipasi perubahan zaman saat ini dan yang akan
datang.
Hal ini karena era sekarang dan masa mendatang menuntut manusia dan
organisasinya memiliki daya adaptabilitas dan mutu yang tinggi untuk dapat
eksis dan kompetitif. Mereka yang mampu menyiapkan diri dengan mutu yang tinggi
akan menjelma menjadi pemenang. Sedang mereka yang tidak mampu menyiapkan diri
maka akan menjadi kelompok yang kalah (losers).
Menyikapi fenomena dalam era globalisasi ini, KH. Sahal Mahfudz (1994)
mengatakan bahwa, “Kalau pesantren ingin berhasil dalam melakukan pengembangan
masyarakat, maka pesantren harus melengkapi dirinya dengan tenaga yang terampil
mengelola (memanajemen) sumber daya yang ada di lingkungannya, di samping
syarat lainnya. Pesantren harus tetap menjaga potensinya sebagai lembaga
pendidikan”.
Untuk itu ponpes tidak boleh tergilas dengan zaman dan kemudian musnah.
Ponpes dalam eksistensinya tidak boleh menutup (mengisolasi) diri dari
perubahan dan perkembangan zaman, tetapi ponpes tetap harus berani menunjukkan
eksistensi diri sebagai lembaga pendidikan Islam yang tetap memiliki
kekhasannya. Dalam filosofi orang jawa dikatakan, “bakal teko jaman perubahan lan kemajuan, siro keno ngeli ning ojo keli”.
Akan datang jaman perubahan dan kemajuan, manusia boleh mengikuti arus
perubahan akan tetapi jangan terhanyut dalam arus tersebut. Untuk itu manajemen
sangat dibutuhkan ponpes jika ingin tetap eksis dan terus ikut memberi
kontribusi positif serta turut mewarnai peradaban dunia di era globalisasi
dalam millennium ketiga saat ini.
C.
Mengelola
Perubahan Pondok Pesantren
Manajemen perubahan adalah suatu proses sistematis dalam menerapkan
pengetahuan, sarana dan sumber daya yang diperlukan untuk mempengaruhi
perubahan. Adapun manfaat manajemen perubahan ini sejatinya untuk memberikan
solusi dari dampak perubahan yang ada dengan menggunakan metode serta melakukan
pengelolaan dampak perubahan tersebut secara terorganisir. (Nur Nasution, 2010: 20).
Di antara stigma negative tersebut misalnya, dikelola dengan kepemimpinan
sentralistik, rigit, otoriter, diajar dan dididik para ustadz yang konservatif,
lingkungan yang kumuh, kurikulumnya klasik, system social yang tertutup
sehingga jauh dari sentuhan informasi dan teknologi yang telah berkembang di
dunia luar, kumpulan orang-orang malas (nglomprot),
tidak memiliki produktivitas yang tinggi, hanya mementingkan sholih individual
dan kurang memperhatikan shalih social serta yang lainnya.
Stigma negative seperti di atas tentu harus ditinjau ulang. Hal ini
karena saat ini telah banyak pula ponpes yang mulai berbenah diri untuk
menyempurnakan eksistensinya dalam menyikapi stigma negative tersebut. Bahkan
disebagian ponpes yang ada telah dimanajemen dengan menggunakan manajemen
modern yang professional. Sehingga kesan negative tersebut tidak terjadi lagi.
Untuk melakukan perubahan terhadap sesuatu budaya yang telah mapan memang
tidak mudah. Untuk itu diperlukan kometmen
untuk mau dan berani melakukan perubahan. Menurut Jones (1998: 513-515) bahwa perubahan
ini tentu bisa dilakukan dengan cara evolusioner dan atau revolusioner.
Upaya melakukan perubahan dari
segala aspeknya seperti di atas tentu harus tetap menimbulkan kondisi yang
lebih baik, sebab tidak semua perubahan yang terjadi akan menimbulkan kondisi
yang lebih baik. Perubahan yang tidak direncanakan, spontan, acak tentu akan
menimbulkan kondisi yang tidak diinginkan dan bisa bersifat merusak (destruktif).
Perubahan hendaknya senantiasa mengandung makna beralih dari keadaan sebelumnya
(the befor condition) belum mapan, tidak baik, tidak berkualitas, memiliki
stigma negatif menjadi berubah kepada keadaan setelahnya (the after
condition) yang sebaliknya. (Winardi, 2010:1)
Namun perlu diingat bahwa
melakukan perubahan tidak selalu berlangsung dengan lancar, mengingat bahwa
perubahan sering kali disertai aneka macam pertentangan dan konflik yang
muncul. Munculnya pertentangan dan konflik ini biasanya datang dari kelompok
yang pro akan kemapanan. Hal ini karena mereka terlanjur merasakan enjoy
dengan kebiasaan yang telah dilakukan, sehingga tidak mau repot-repot lagi,
atau takut terhadap hal-hal yang tidak diketahui, malas dan mengisolasi diri
dari mengakses informasi yang terkini, takut bergesernya kemapanan ekonomi yang telah
dinikmati dari segala aspeknya dan yang lainya.
Hal ini seperti yang jelaskan Robbins
(1991: 632-644). Menurutnya ada lima macam alasan mengapa individu-individu
menentang perubahan:
- Perasaan
takut terhadap hal-hal yang tidak diketahui
- Faktor-faktor ekonomi
- Kepastian
- Kebiasaan
- Pemrosesan informasi secara selektif
Selanjutnya selain dari
tentangan perilaku individu seperti penjelasan di atas, ternyata penyebab
perubahan tidak selalu berlangsung dengan lancar karena adanya tentangan dari
perilaku keorganisasian yang memiliki sifat konservatif.
Menurut Winardi (2010: 7) ada
enam penyebab timbulnya tentangan-tentangan keorganisasian yakni:
- Ancaman
terhadap alokasi sumber-sumber daya yang berlaku
- Ancaman terhadap hubungan-hubungan kekuasaan yang sudah mapan,
- Ancaman bagi ekspertise (keahlian)
- Inertia (kelambanan) struktural
- Inertia kelompok
- Fokus perubahan yang terbatas
Untuk itu pengelola/pengasuh
ponpes dalam hal ini harus berani mengahadapi resiko apapun dan
tentangan-tentangan yang terjadi tatkala melakukan perubahan. Namun demikian
hrus tetap menggunakan metode/teknik serta menerapkan strategi untuk
memperkecil resiko yang tidak diinginkan itu sekecil-kecilnya, tetapi perubahan
besar yang diharapkan segera terwujud.
Melakukan perubahan dalam
keadaan dan situasi yang penuh dinamika seperti saat ini, apalagi jika telah
mengalami kerusakan, kekacauan (turbulence) merupakan sebuah keharusan.
Untuk itu upaya melakukan perubahan sudah saatnya tidak boleh ditunda-tunda
lagi dan jangan sampai menungguh hingga semuanya mengalami kemunduran serta
kehancuran. Jika dalam kondisi semuanya sudah mengalami kemunduran, kehancuran
kemudian baru bergerak, maka percaya
atau tidak kita akan menemui dan merasakan penyesalan. Betapa tidak, hal ini
menyebabkan ponpes yang dulunya menjadi pusat pendidikan pada akhirnya hanya
tinggal bangunannya saja.
Dalam rangka untuk
memperkecil resiko dan mengatasi berbagai tentangan terhadap perubahan tersebut
maka ada enam macam taktik yang disarankan untuk diterapkan oleh agen
perubahan. Adapun taktik yang dimaksud adalah sebagai berikut yakni perlu
diberikan pendidikan dan komunikasi yang baik, partisipasi, fasilitas dan
bantuan, negosiasi, manipulasi (memanfaatkan informasi dan insenstif agar
perubahan bisa diterima) dan kooptasi (mempengaruhi pihak penentang agar
membantu perubahan), paksaan (coercion).
(Robbins, 1991: 643-644).
Demikian uraian tentang mengelola perubahan ponpes. Untuk itu para
pengelola/pengasuh ponpes sudah saatnya perlu memandang kegiatan mereka dalam
hal memanaj perubahan sebagai suatu tanggung jawab yang bersifat integral dan
bukan sekedar sebagai kegiatan yang sambil lalu. Mereka yang mengabaikannya
tentu akan mengalami dampak negative.
* Penulis:
Dosen Fakultas Tarbiyah & Pascasarjana
IAIN Sunan Ampel Surabaya
Direktur Program Pascasarja STAI Al-Khoziny
Buduran Sidoarjo
Direktur Ponpes Mahasiswa Jagad Alimussirry Surabaya
Subscribe to:
Posts
(
Atom
)










